Memberikan kepercayaan pada orang yang mencintai kita lebih baik, daripada memberikan kepercayaan pada orang yang kita cintai ('' ) (ʃƪ´`)

Video Clip Rumor - Butiran Debu


Download video clip Rumor Butiran Debu
0

"Anak Ibu"

Posted by disap on 00.10
Bagi lo pada yang suka cerpen, nih gue ada cerpen antara mak dan anak :)
sheck it out aja yaaaa ..



“Berapa?”
“Lima setengah.”
“Lima?”
“Lima setengah, Bu.”
“Lima setengah ya lima!”
“Tapi bisa jadi enam, Bu.”
“Siapa bilang? Kalau lima koma delapan atau sembilan bisa dibulatkan ke atas. Tapi
lima setengah, tetap lima! Lima!”
“…”
“Ulangan yang lalu, empat. Sekarang lima setengah. Berapa angka matematikamu di
raport nanti? Mengkhawatirkan sekali ini!”
“…”
“Ibu sedih. Karena Ibu tahu, sebetulnya kamu bisa dapat lebih dari ini. Delapan,
sembilan, juga bisa! Masalahnya cuma satu: kamu malas belajar. Kalau tidak dikejar-
kejar, dimarahi, tidak belajar!”
“…”
“Jaman sekolah dulu, nilai berhitung Ibu tidak pernah kurang dari delapan. Ibu tidak
minta kamu dapat delapan. Tujuh saja sudah cukup. Tidak lebih. Ini buat kebaikan
kamu! Heran, apa susahnya dapat tujuh? Apa?”
“…”
1983
“Aku mau masuk bahasa, Bu.”
“Bahasa? Bahasa apa?”
“Jurusan Bahasa.”
“Ooh, itu. Lho, bagusnya kan IPA?”
“Ibu Kepala Sekolah bilang aku lebih cocok masuk bahasa.”
“Dia bilang begitu? Ah, tahu apa dia tentang kamu.”
“Tapi itu cocok sama hasil tes IQ, Bu.”
“Ah, tes IQ kan buatan manusia. Tidak mutlak benar hasilnya! Aku, ibumu, tahu sekali
kalau kamu sangat berbakat untuk IPA. Kamu kan suka percobaan kimia, membedah
kodok, burung dara… Kamu bisa jadi dokter, insinyur, dokter hewan, semuanya!”
“Tapi, Bu…”
“Nanti Ibu ketemu Kepala Sekolahmu. Ibu akan bilang kalau kamu bisa masuk IPA.”
“Tapi …”
“Jurusan bahasa tidak jelek. Tapi tidak masuk hitungan. Sayang otakmu yang bagus.
Tersia-sia nanti dengan pelajaran yang remeh-remeh. Usaha sedikit saja kamu pasti
bisa! Besok kita datang menghadap. Kamu masuk IPA.”
“Bu, tapi …”
“Tidak ada tapi-tapian. Ibu yakin kamu bisa. Kamu cuma malas. Terlalu banyak main,
mengobrol tak berguna di telepon!”
“…”
“Ibu tidak minta macam-macam. Ibu cuma ingin di rumah kita nanti ada dokter. Kamu.
Itu saja. Heran, apa susahnya masuk IPA? Apa?”
“…”
1994
“Bu, aku akan buka klinik bersama teman-teman!”
“Puji syukur!”
“Ibu jadi penasehatnya, ya?”
“Tentu! Kapan? Di mana klinikmu buka?”
“Nanti, Bu. Masih lama. Mungkin akhir tahun baru jadi.”
“Ooh, praktek bersama? Mungkin bisa di rumah kita. Pakai paviliun samping saja!”
“Kami tidak mau di rumah, Bu.”
“Lalu, di mana? Gedung perkantoran? Bagus juga itu! Bergengsi sekali!”
“Tidak juga.”
“Di mana? Di mana?”
“Di perkampungan nelayan. Tempat aku dulu kerja praktek.”
“Tobat!”
“Kenapa, Bu?”
“Jadi bukan klinik spesialis?”
“Klinik spesialis juga.”
“Tapi di…”
“Ya di kampung nelayan itu. Kenapa, Bu?”
“Tobat! Tobat!”
“Ibu tidak setuju?”
“Buat apa sekolah tinggi-tinggi kalau mendarat di kampung nelayan? Kapan kayanya
kamu?”
“Kaya?”
“Ya, kaya. Banyak duit! Hidup senang! Seperti Pakde-mu itu! Dokter spesialis kulit,
langganannya ibu-ibu cantik dan kuaya ruaya!”
“Aku tidak suka yang model begitu, Bu.”
“Kamu itu kenapa ya, kok bisa-bisanya mirip dengan bapakmu yang sok sosial itu.
Begitu sial betulan, teriak-teriak. Minta tolong sama Ibu!”
“Dulu, Ibu bilang di rumah ini harus ada dokter. Sekarang aku sudah jadi dokter, mau
mengabdikan ilmu, Ibu larang…”
“Pintar omong kamu. Kalau tahu bakal selancar ini omonganmu, lebih baik aku biarkan
kamu di rumah. Buta huruf. Tidak usah sekolah. Tidak usah jadi dokter. Buang uang.
Buang waktu. Percuma.”
“…”
“Ibu tahu kamu sudah besar, mau mengatur hidup sendiri. Tapi kamu musti percaya
sama Ibu. Aku ini tahu apa yang kamu perlukan. Dan yang kamu perlukan bukan buka
klinik di kampung nelayan!”
“…”
“Ibu hanya ingin kamu bahagia.”
“…”
“Supaya bahagia, dengarkan ibu. Kamu kan tahu Ibu tidak minta macam-macam. Ibu
cuma tidak ingin kamu praktek di kampung itu. Sayang betul, sudah sekolah mahal-
mahal, lama-lama, eh ternyata cuma buat mengobati orang-orang yang tidak bisa
bayar kamu. Sayang! Bukalah praktek yang normal, yang beres, yang menghasilkan.
Seperti dokter-dokter lain itu, lho. Sudah. Tidak macam-macam. Apa susahnya? Tidak
ada! Malah bisa bahagia kamu nanti! Banyak uang!”
1999
“Anaknya Bu Sis kawin minggu depan.”
“Anak yang mana lagi?”
“Yang paling kecil!”
“Si Sri?”
“Ya.”
“Ampun! Umurnya paling baru berapa…”
“Eh, jangan ampun-ampun! Umurmu sendiri, berapa? Tahun ini sudah tiga puluh. Yani,
anaknya Bu Sis yang paling besar, yang setahun lebih muda dari kamu, sudah tiga
anaknya. Kamu? Punya pacar saja belum!”
“Nantilah, Bu.”
“Nanti kapan? Tiap kali ditanya, nanti-nanti-nanti. Mau tunggu ibumu ini bersatu
dengan tanah?”
“Ibu!”
“Ibu capek menunggu kamu yang keasyikan kerja! Pasienmu itu kan cuma perempuan-
perempuan yang jerawatan. Kalau kau tinggal sebentar buat cari pacar, pasti bisa.
Paling banter jerawatnya bertambah sedikit. Tidak akan mati.”
“Bukan itu masalahnya, Bu.”
“Lho justru itu! Pasti! Kamu ini tidak punya waktu buat keluar dari kamar praktek.
Tidak sempat bergaul. Kenalan!”
“Ya, ya…”
“Ya, ya, ya apanya? Kamu musti meluangkan waktu. Ikut Ibu arisan atau kumpul-
kumpul sama keluarga besar kita. Ibu yakin, tante-tante dan oom-oom yang datang di
sana pasti punya simpanan bagus buat kamu.”
“Bu!”
“Sudah, mengaku saja kalau kamu tidak bisa dan tidak sempat cari pasangan sendiri.
Biar Ibu yang cari.”
“Kalau nggak cocok bagaimana?”
“Pasti cocok! Masak Ibu bisa salah pilih pasangan buat anaknya sendiri.
“Tapi kalau memang nggak sreg, mana bisa dipaksa, Bu?”
“Sreg tidak sreg, cocok tidak cocok, semua tergantung kamu sendiri. Hatimu sendiri
yang mengatur itu. Percaya sama Ibu. Semua itu diatur dari niatmu sendiri!”
“Tapi rasanya pasti susah, Bu.”
“Kamu memang keras kepala. Sekali-kali turuti permintaan Ibu, apa salahnya? Ibu
tidak minta macam-macam. Ibu itu cuma minta kamu dapat pasangan. Kawin. Punya
suami. Ibu cuma ingin lihat kamu bahagia. Itu saja. Apa susahnya, sih?”
2002
“Tante Niek sudah punya cucu lagi. Jadi empat sekarang..”
“Aduh, ramainya!”
“Bukan ramai, senang! Meriah.”
“…”
“Ibu juga kepingin punya cucu.”
“…”
“Umurmu sudah berapa? Mau tunggu kapan lagi? Nanti kebablasan, menyesal kamu.”
“Nantilah, Bu. Kalau semuanya sudah beres.”
“Oh, tidak akan beres sampai kapan pun. Anak itu bagusnya datang sekarang-sekarang.
Mumpung kamu dan suamimu itu masih muda. Kalau ketuaan, kamu sendiri yang
repot.”
“Nantilah…”
“Gusti…. Kamu ini maunya apa sih? Bikin Ibu mati tua tanpa cucu? Tega betul kamu!
Ibu tidak minta dibikinkan rumah mewah, jalan-jalan ke luar negeri apalagi berlian.
Tidak! Ibu cuma minta cucu. Cucu saja. Mumpung masih dikasih umur sama Yang Di
Atas, cepat aku dikasih cucu! Apa susahnya, sih?”
“…”
2006
“Jadi kapan cucuku bertambah jadi dua?”
“…”
“Tahun depan?”
“…”
“Kalau sepasang kan lucu sekali. Sudah pas! Bagus!”
“Mungkin tidak akan ada cucu kedua, Bu.”
“Hah? Tidak mungkin? Cuma mau punya satu anak?”
“Ya.”
“Lho, nanti aku kesepian. Kau juga kesepian!”
“Tidak apa-apa, Bu.”
“Lho, ya jelas apa-apa! Jangan buru-buru memutuskan! Sudah rapat sama suami,
belum?”
“Sudah.”
“Dia setuju?”
“Tak perlu ditanyakan, Bu.”
“Kamu itu memang keterlaluan!”
“Dia, Bu. Bukan aku.”
“Jangan putuskan apa-apa sebelum dia setuju!”
“Dia tak akan ambil pusing, Bu. Sudah sebulan ini dia tak pulang.”
“Tidak pulang? Tugas luar?”
“Ya, tugas di rumah perempuan lain. Buka cabang baru.”
“Aduh, Gusti!”
“Tidak apa-apa, Bu. Kami akan pisah baik-baik. “
“Jangan! Jangan pisah! Itu sakit musiman laki-laki. Biasa! Bapakmu begitu juga. Pakde
Mursid, Paklikmu, Herry… hampir semua laki-laki di dunia suka main sana-sini. Itu
biasa. Biasa sekali!”
“Maksud Ibu, aku harus tetap bertahan dengan kesukaannya main sana-sini itu?”
“Ya! Karena di situlah letak kekuatanmu sebagai istri! Kamu musti belajar menderita.
Belajar bertahan! Kuat! Lihat, Ibumu ini. Kuat! Ibu bisa. Bapak boleh ke mana-mana,
Ibu tetap di sini.…”
“Tapi Bapak tidak pernah kembali.”
“Itu bukan urusan Ibu. Yang penting Ibu di sini. Terus di sini. Bersama kamu dan adik-
adikmu.”
“Tapi aku bukan Ibu.”
“Tapi kamu musti seperti aku. Mesti.”
“Aku tidak bisa, Bu. “
“Kuat sampai tua. Sampai mati.”
“Bu…”
“Kamu harus bisa. Ini bukan buat Ibu. Ini buat kebaikan kamu sendiri. Tidak baik
melepaskan diri dari suami. Aib itu.”
“…”
“Ibumu tidak minta macam-macam. Ibu cuma ingin kamu bertahan. Demi Ibu. Kau ini
anak Ibu. Kau pasti tidak ingin ibu jadi sedih dan malu karena keputusanmu itu, kan?
Sudah, cuma itu. Ibu ndak minta macam-macam… Apa susahnya? Apa?”
“…”
Pustaka Jaya, 2006
Sambal Keluarga
Puthut EA (20 Agustus 2006)
Di keluargaku, ada satu jenis sambal yang nyaris tidak pernah absen dari meja makan
kami, terutama saat makan pagi. Sambal itu sangat sederhana, baik bahan maupun
cara pembuatannya. Beberapa butir cabai hijau, ditambah sepotong kecil bawang
putih dengan garam secukupnya, lalu ditetesi minyak goreng panas sisa menggoreng
sesuatu. Setelah diulek, sambal itu dihidangkan begitu saja di atas cobek, berbaur
dengan menu lain.
Sambal itu bukan menu tambahan atau menu penyempurna. Ia merupakan menu
utama. Lauk yang lain seperti tidak ada jika sambal itu tidak hadir, tetapi sambal itu
akan tetap menggiurkan dengan iringan lauk yang lain. Sambal itu tetap enak jika
disandingkan dengan ayam goreng, telur, atau tempe. Tetap enak sekalipun hanya ada
kerupuk atau pete.
Masing-masing anggota keluarga kami mempunyai nama sendiri-sendiri untuk
menyebut sambal itu. Yu Sumi, orang yang bertahun-tahun membantu memasak di
rumah kami, menyebut sambal itu dengan nama sambal korek. Mungkin karena
sekalipun sambal itu sudah tandas, kami tetap mengoreknya dari cobek untuk mencari
sisa-sisa. Ibuku memberi nama sambal itu dengan nama sambal galak. Alasannya,
sambal itu terasa sangat pedas, galak di mulut. Bapakku menyebut sambal itu dengan
nama sambal bahagia. Konon kata bapakku, sambal sederhana itu gampang
membuatnya bahagia. Ayundaku, satu-satunya saudara kandungku, menyebut sambal
itu dengan nama sambal malas. Maksudnya, sambal itu membuatnya malas untuk
menyelesaikan sarapan, selalu ingin menambah nasi. Dan aku memberi nama sambal
itu dengan nama sambal asal. Siapa pun orangnya, asal sudah bisa memegang cobek
dan ulekan, pasti bisa membuatnya.
Kalau sambal itu absen dari meja makan kami saat sarapan, masing-masing kami
mempunyai kalimat antik untuk meresponsnya. Ibuku akan berkata, Yu Sumi sedang
ngambek. Sedangkan bapakku akan mengatakan kalau penjual cabai hijau sedang
menikah. Ayundaku lain lagi, jika sambal itu tidak hadir, ia selalu bilang, sidang
kabinet batal. Ayundaku memang senang sekali menonton laporan khusus yang
ditayangkan TVRI, terutama kalau Pak Harmoko membacakan harga-harga bahan
makanan, termasuk harga cabai. Aku sendiri akan bilang, upacara tanpa bendera.
Biasanya, sebelum makan, aku akan mengeluarkan aba-aba untuk diri sendiri jika tidak
ada sambal tersebut di meja makan, “Upacara tanpa bendera, mulai!”
Sarapan pagi bagi kami adalah sebuah prosesi yang khusyuk tapi tetap cair dan ringan.
Sambal adalah uba-rampe yang tidak bisa digantikan oleh apa pun. Sambal itu telah
menjadi sambal keluarga.
Pada saat sarapan, kami juga saling menandai siapa di antara kami yang sedang
mempunyai masalah. Kalau ada salah seorang di antara kami tidak antusias berebut
sambal dari cobek, pasti ia sedang mempunyai masalah. Pasti.
Sampai aku dan ayundaku besar, sambal keluarga itu tetap menduduki rangking
teratas di keluarga kami. Jika kami berkumpul di rumah, menu itu selalu dipastikan
ada saat sarapan. Hanya ketika aku dan ayundaku sudah tumbuh besar, kami berdua
memberi sebutan yang berbeda lagi untuk menu sambal. Beberapa bulan setelah aku
kuliah, aku menyebut sambal itu dengan nama sambal proletar. Sedangkan ayundaku
menyebutnya dengan nama sambal kenangan.
****
Keluarga kami bertemu di meja makan tiga kali dalam sehari. Pagi, ketika ibu-bapakku
akan pergi ke kantor dan kami bersiap pergi ke sekolah, lalu siang ketika kami semua
sudah tiba dari tempat masing-masing, dan malam hari seusai salat maghrib. Tapi
hanya pada pagi hari kami benar-benar seperti “bertemu”. Di siang hari, aku yang satu
selera dengan ibuku, lebih memilih santapan sayur asem, sedangkan bapakku dan
ayundaku lebih memilih sayur lodeh. Di malam hari, makanan kami lebih sering dibeli
dari luar rumah, dan kami pun membentuk konfigurasi selera yang berbeda, aku dan
ayundaku lebih suka makan masakan Padang, sementara ibu dan bapakku lebih suka
menikmati lontong sayur atau pecel lele.
Tidak bisa kumungkiri, menu makan pagi yang tidak tergantikan itu telah berubah
menjadi begitu jauh, penuh dengan isyarat dan petanda yang lembut bagi kami
sekeluarga. Seperti menenun sebuah jaringan mental yang gaib dan penuh rahasia.
Kalau ada tamu menginap di rumah kami, tidak peduli apakah itu saudara dekat
seperti nenek atau bude, atau teman-teman ibu dan bapakku, bisa dipastikan menu itu
bersembunyi, lenyap dari meja makan kami. Seolah kami saling melempar pesan,
“Sekarang sedang ada orang lain.”
Hanya ada satu orang saja yang kami percaya untuk mengetahui rahasia lembut itu, Yu
Sumi. Dialah yang menguntit proses itu bertahun-tahun, dan ikut menyukseskan ritual
sarapan dengan baik. Dan karena itu, ia adalah bagian dari kami.
Dengan pelan dan pasti, aku mulai menyadari bahwa itu bukan sekadar perkara jenis
sambal tertentu. Itu lebih rumit dari yang kami rasakan di lidah. Pertama aku
menandai itu ketika ayundaku pergi kuliah di luar kota. Tetap ada menu itu di sarapan
kami bertiga, tapi tetap seperti tidak biasanya. Dan kami butuh waktu untuk
menyesuaikan, dan kami tahu, itu adalah cara menyesuaikan, bukan idealnya. Tiga
tahun kemudian, ketika aku menyusul ayundaku kuliah di kota yang sama, tidak jarang
kami pun sering mencoba membuat kedua menu itu, hasilnya sama, tidak akan pernah
sama persis ketika itu kami santap di rumah bersama ibu dan bapak kami.
Sambal itu baru kami nikmati kembali sebagai sambal keluarga ketika kami berkumpul.
Sambal itu bau benar-benar sambal karena ia berada di sana, di sebuah pagi, di rumah
kami, ketika kami semua lengkap mengepung meja.
Lalu semua itu berkembang lebih jauh lagi. Aku masih mengingat saat itu, ketika kali
pertama ayundaku membawa pacarnya pulang ke rumah, memperkenalkan kekasihnya
itu ke kedua orangtua kami. Pagi saat sarapan, ayundaku terlihat sebagai orang yang
paling resah. Ia langsung pucat dan tidak berselera, begitu di meja makan, di antara
sekian banyak lauk-pauk tidak ada kedua menu itu. Sebuah isyarat telah dilempar ke
meja makan. Dan ayundaku begitu lunglai.
Kali kedua ia membawa kekasihnya yang lain, ia pun mengalami hal serupa. Dan itu
bukan hanya menimpanya, tetapi juga pernah menimpaku. Sekali menimpaku karena
hanya sekali pula aku membawa pacarku pulang ke rumah. Semenjak itu, kami berdua
harus berpikir berkali-kali kalau ingin membawa pacar kami pulang ke rumah.
Setelah mengalami ketiga kejadian itu, aku memberi nama sambal itu dengan nama
sambal ujian, sementara ayundaku memberi nama sambal maut. Perubahan
penyebutan itu hanya membuat kedua orangtuaku tersenyum ringan dan tetap tenang.
Saat kami berdua tidak tinggal serumah lagi dengan kedua orangtua kami, memakan
sambal dengan lahap ketika berkumpul bersama keluarga menjadi semacam registrasi
ulang untuk mengukuhkan sesuatu yang kami anggap penting. Sarapan pagi adalah
ritual validasi atas diri kami berdua, aku dan ayundaku. Suatu kali, ketika hampir dua
tahun ayundaku tugas belajar ke luar negeri, begitu pulang ke Indonesia ia langsung
mengajakku pulang ke rumah. Paginya, dalam suasana makan pagi yang hangat,
ayundaku menyantap sambal keluarga itu dengan cara yang tidak pernah ia lakukan.
Kupikir, ia bukan sekadar rindu pada sambal dan suasana di keluarga kami, tapi juga
dalam rangka menunjukkan sesuatu yang penting untuk disampaikan. Hasilnya, ia tidak
makan siang dan tidak makan malam karena kekenyangan dan perutnya panas. Tapi
keesokan harinya, ia tetap menyantap sambal itu dengan antusiasme yang tidak kalah
dari pagi sebelumnya.
Dua tahun yang lalu, akhirnya, satu orang lagi menjadi bagian dari keluarga kami. Mas
Rudi, yang sekarang menjadi suami ayundaku, lolos dari pedas sambal maut. Ketika
pagi itu, ayundaku melihat sambal keluarga terhidang di atas cobek saat makan
bersama, ia tidak bisa menyembunyikan kegembiraannya. Ia langsung memekik dan
mencium ibu-bapakku, dan merangkul Mas Rudi. Tentu saja Mas Rudi yang tidak tahu
apa-apa hanya bengong.
Kini, mereka berdua telah dikarunia seorang putri yang lucu, dan sekalipun
keponakanku itu mempunyai nama panjang yang bagus, toh ayundaku memanggil
anaknya dengan panggilan sayang: Mbal….
****
Pagi ini adalah pagi yang paling membuatku salah tingkah. Ayundaku, Mas Rudi, dan
putri mereka ramai bermain di beranda depan. Ibuku sedang mempersiapkan sarapan
buat kami di dapur. Hanya bapakku yang tidak terlihat. Sementara Dian, kekasihku,
masih berada di kamar. Sesekali, ayundaku masuk ke ruang tamu, tempat di mana aku
mencoba mengatasi perasaanku yang serba tidak menentu. Beberapa kali ayundaku
memberi isyarat supaya aku tenang. Bahkan tidak segan ia menepuk pundakku, seakan
memberi semangat dan ketenteraman bahwa pagi ini, semua akan baik-baik saja.
Kemarin, ayundaku beserta suami dan putri mereka berkunjung ke rumah orangtua
kami. Mereka dipanggil pulang ke rumah oleh ibuku setelah aku dan Dian memastikan
bahwa kami berdua akan datang. Ini kali pertama Dian kuajak ke rumahku, dan ini
berarti drama sambal keluarga akan dimulai.
Setahun lebih aku menjalin hubungan dengan Dian, dan baru kali ini aku
memberanikan diri mengajaknya mengunjungi kedua orangtuaku. Hampir semua hal
telah kami bicarakan berdua, kecuali satu hal: sambal keluarga.
Semalam, kami semua telah berkumpul. Semalam, suasana begitu akrab sehingga
seharusnya aku tidak perlu terlalu khawatir akan drama pagi ini. Tapi bukankah seperti
itu yang dulu terjadi kepada kedua mantan kekasih ayundaku dan mantan kekasihku?
Malam yang nyaman, bukan berarti sebuah tiket yang bisa menentukan apa yang
terjadi di pagi harinya.
Dian keluar dari kamarnya. Ia menemuiku, dan bilang akan membantu ibu di dapur
untuk mempersiapkan sarapan. Tapi sebelum aku mengiyakan, ibu sudah memanggil-
manggil kami dari dapur. Perasaanku semakin kocar-kacir, pikiranku semakin kacau.
Ayundaku bersama Mas Rudi dan putri mereka segera masuk ke gelanggang
pementasan. Dian memberi isyarat agar kami berdua segera menyusul ke dapur.
Pelan aku bangkit dan menggandeng tangan Dian. Pada tangan itu, aku ingin
memastikan dan memperkuat sesuatu yang serba tidak menentu. Aku mendengar suara
ramai di dapur, suara keponakanku ditimpali suara ayunda dan ibuku. Suara yang
ringan dan bingar. Beberapa meter dari ruang makan, aku melihat semua sudah
menempati kursi masing- masing, hanya Mas Rudi yang masih menggendong putrinya
sambil terus bercanda. Bapakku yang dari pagi tidak kulihat juga sudah berada di sana,
sementara Yu Sumi masih kulihat sibuk di dapur yang terletak bersebelahan dengan
ruang makan.
Pelan kami berdua masuk, menuju tempat duduk yang tersisa. Dan mataku menyapu
sajian di meja makan….
Jantungku berdetak mengencang dan mengeras. Kusapu berkali-kali dan kuperiksa
dengan seluruh perhatianku, tetap saja aku tidak menemukan satu menu yang paling
kutunggu-tunggu. Tubuhku terasa ringan. Tapi aku berusaha tetap tenang, dan duduk
di kursiku. Yu Sumi masih melakukan sesuatu di dapur, mungkin masih di sana….
Semoga….
Rasa tidak menentu juga kulihat di raut muka ayundaku. Mas Rudi, orang yang
akhirnya tahu tentang drama sarapan ini, setelah mengambil makanannya, keluar dari
ruang pentas. Ia memberi alasan akan menyuapi putrinya di beranda. Tapi aku
memaklumi, ia sedang tidak ingin mencampuri satu peristiwa yang mungkin tidak
mengenakkan hatinya.
Sarapan dimulai. Tanganku gemetar, aku tidak sanggup mengeluarkan sepatah kata
pun. Berkali-kali, aku melihat ayundaku juga berusaha menghilangkan ketegangan
dengan cara menarik napas dalam-dalam. Sementara ibu dan bapakku terlihat seperti
biasa, tenang dan ramah. Dan Dian…, ia juga tenang.
Yu Sumi datang membawa sesuatu. Harapanku bangkit. Tapi setelah tahu apa yang ada
di tangannya, yang kemudian diletakkannya di meja, kembali gelombang harapan itu
kandas seketika. Kali ini, Dian melihatku dengan heran. Tapi ia meneruskan mengambil
lauk yang ada di meja.
Percakapan-percakapan ringan mulai hadir. Ibuku bicara, bapakku bicara, Dian
menjawab dan menimpali. Ayundaku sesekali ikut ambil bagian. Hanya aku yang belum
mengeluarkan sepatah kata pun.
Yu Sumi datang lagi, ia membawa sesuatu. Harapanku naik lagi. Tapi lagi-lagi, ia tidak
membawa sesuatu yang kuharapkan. Saat tahu itu, aku hanya punya satu pikiran…
habis… aku habis!
Tapi tepat di saat pikiran buruk itu menguasaiku, ibuku bangkit. Ia menuju dapur.
Tidak lama kemudian ia masuk lagi membawa cobek. Aku hampir memekik, tapi aku
ingin memastikan sesuatu di dalamnya. Dan apa yang kuharapkan ada di sana, sambal
keluarga datang!
Ibuku tersenyum. Bapakku tersenyum. Ayundaku bahkan langsung berteriak girang.
Sementara aku menahan diri untuk tidak berteriak, tapi mengulum senyum lega. Dian
juga tersenyum, aku tidak tahu apa maksud senyumnya.
“Mbak Dian, sambal… ini sambal keluarga kami,” ibu mengeluarkan suara.
“Iya, Dian. Sambal ini enak sekali,” ayundaku menimpali sambil tangannya mengeruk
sambal dengan sendok dan menjatuhkan sambal itu di piringnya.
Aku yang begitu girang, masih berusaha menahan semuanya. Dadaku dipenuhi rasa
syukur.
“Iya, Bu… saya juga suka sambal ini. Saya sering membuatkan sambal ini untuk eyang
kakung saya…,” sambil berkata seperti itu, Dian mengambil sesendok sambal.
Aku benar-benar lega. Semua terasa lapang dan ringan.
Tapi beberapa detik kemudian, aku merasa ada yang berhenti di ruang makan ini. Aku
melihat mata ayundaku terhenti pada sesuatu. Aku melihat mata ibuku juga terhenti
pada sesuatu. Aku memastikan apa yang terjadi dengan itu semua….
Napasku seperti berhenti. Aku melihat satu adegan ringan tapi tajam. Tangan Dian
mengambil sebotol kecap, dengan pelan ia menuangkan kecap itu di atas sambal yang
sudah berada di piring makannya. Dengan tenang ia berkata, “Tapi saya paling suka
kalau ditambah kecap.”
Aku diam. Ayundaku diam. Ibuku diam. Bapakku diam. Semua diam. Ibuku tersenyum.
Bapakku tersenyum. Mereka berdua kembali mengeluarkan kalimat-kalimat ringan
untuk mencairkan suasana.
Dian tetap makan dengan tenang, sambil sesekali menimpali pembicaraan.
dian
sambal muncul dengan dramatis
gembira
dian menuangi sambal yang diambilnya dengan kecap!

|

0 Comments

Posting Komentar

Blogger templates

Blogger News


Copyright © 2009 ♥☆ Disyaff (✿◠‿◠) ☆♥ All rights reserved. Theme by Laptop Geek. | Bloggerized by FalconHive.